Gema Organ Pipa GPIB Paulus Menteng: Revitalisasi Warisan Sejarah dalam Refleksi Prapaskah

Jakarta – Suasana penuh khidmat mendominasi Gereja GPIB Paulus di Menteng, Jakarta Pusat, pada hari Sabtu, 14 Maret 2026. Dalam rangkaian acara Pipe Organ Recital 2026 yang bertema “A Lenten Reflection,” alunan megah dari organ pipa yang legendaris menggema di seluruh ruang ibadah. Event ini bukan sekadar konser musik klasik, melainkan juga sebuah perjalanan spiritual dalam masa prapaskah yang sekaligus berfungsi sebagai upaya penyelamatan warisan sejarah.
Revitalisasi Warisan Sejarah
Ketua Penyelenggara Pipe Organ Recital 2026, John Pattiwael, menjelaskan bahwa resital ini mengusung pesan krusial mengenai pentingnya pelestarian. Organ pipa yang menjadi kebanggaan GPIB Paulus telah beroperasi tanpa henti selama lebih dari tiga dekade. “Gereja kami berencana untuk segera melakukan revitalisasi pada organ pipa ini. Setelah 30 tahun berfungsi, biasanya kami hanya melakukan pemeliharaan rutin setiap tahun. Namun, saat ini saat yang tepat untuk melakukan perbaikan besar,” ungkap John Pattiwael saat ditemui di tengah acara.
Menurutnya, tidak semua gereja memiliki organ pipa yang masih dalam kondisi baik. Oleh karena itu, resital ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran di kalangan jemaat dan masyarakat umum akan pentingnya instrumen ini sebagai aset mekanikal yang kompleks dan memiliki nilai sejarah yang tinggi yang harus dijaga dengan baik.
Pujian dari Duta Besar Internasional
Keunikan organ pipa di gereja ini ternyata menarik perhatian warga asing yang tinggal di Jakarta. Hadirnya Duta Besar Rusia dan Duta Besar Belanda menambah nuansa internasional pada acara tersebut. Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Gennadievich Tolchenov, mengaku terkesan dan sangat terinspirasi melihat instrumen klasik ini terawat dengan baik di pusat kota Jakarta. “Acara ini sangat menarik. Saya adalah penggemar musik organ pipa dan terkejut menemukan resital sekelas ini ada di sini. Saya berharap ini bukan pengalaman terakhir saya menikmati musik ini di Jakarta,” katanya.
Sementara itu, Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Marc Gerritsen, juga memberikan apresiasi kepada GPIB Paulus yang berhasil menggelar Pipe Organ Recital. “Bagi saya, ini sangat istimewa. Saya sering melewati gereja ini karena tinggal dekat Jalan Diponegoro, dan ini adalah pertama kalinya saya masuk ke dalam. Ini bukan hanya tentang musik, tetapi juga tentang sejarah, masyarakat, dan komunitas yang luar biasa,” jelas Marc.
Refleksi Prapaskah dan Toleransi
Dalam resital ini, karya-karya agung dari komposer ternama dunia seperti Johann Sebastian Bach dan George Frideric Handel diperdengarkan dengan tema “Soli Deo Gloria” yang berarti “Kemuliaan hanya bagi Tuhan.” John Pattiwael menambahkan bahwa momen prapaskah ini juga menjadi waktu yang tepat untuk melakukan refleksi, terutama bertepatan dengan bulan suci Ramadan. “Melalui resital ini, umat diajak untuk merasakan makna pengorbanan Tuhan. Pada saat yang bersamaan, kita juga menghargai kebersamaan dengan saudara-saudara Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa. Ini adalah waktu untuk saling menghargai melalui harmoni musik,” imbuh John.
Peran Pemain Organ dan Kolaborasi
Pemain organ pipa dalam acara ini terdiri dari Jonathan Wibowo, Geraldine Supit, dan Arlend Chris. Mereka juga berkolaborasi dengan Paduan Suara Nafiri GPIB Paulus serta Nassaukerk Children Choir. Resital ini didukung oleh Komisi Pembangunan Ekonomi Gereja (PEG) GPIB Paulus Jakarta, yang berupaya untuk menjaga agar organ pipa GPIB Paulus tetap berfungsi dan berperan sebagai bagian dari identitas musik gereja serta ikon budaya di kawasan Menteng untuk puluhan tahun ke depan.
- Keberadaan organ pipa selama lebih dari 30 tahun.
- Pentingnya pemeliharaan dan revitalisasi instrumen bersejarah.
- Partisipasi Duta Besar dari negara-negara sahabat.
- Kolaborasi dengan paduan suara untuk meningkatkan pengalaman musikal.
- Refleksi spiritual dalam konteks toleransi antar-agama.
Dengan langkah revitalisasi yang akan segera dimulai, diharapkan organ pipa GPIB Paulus dapat terus berdengung, tidak hanya sebagai alat musik, tetapi juga sebagai simbol kekayaan budaya dan spiritual yang mendasari komunitas di Menteng. Melalui acara ini, diharapkan semakin banyak orang yang menyadari pentingnya melestarikan warisan sejarah agar dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang.
➡️ Baca Juga: Air New Zealand Siap Hadapi Lonjakan Harga Bahan Bakar Jet Akibat Krisis Timur Tengah
➡️ Baca Juga: Musrenbang RKPD 2027 Tekankan Sinergi dan Aksi Nyata Perkuat Ekonomi Desa di Tubaba




