Inovasi AI dan Tata Kelola Air Terintegrasi untuk Mitigasi Iklim di Indonesia

Jakarta – Inovasi yang menggabungkan kecerdasan buatan (AI) dengan tata kelola air terintegrasi diakui memiliki peranan strategis dalam mengatasi dampak perubahan iklim yang semakin nyata di berbagai wilayah Indonesia, khususnya di kawasan pesisir dan pedesaan. Hal ini menjadi sorotan dalam forum Knowledge and Innovation Exchange (KIE) Jakarta Summit yang berlangsung pada 29 April 2026.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Mitigasi Iklim
Forum ini menjadi wadah bagi peneliti, pejabat pemerintah, akademisi, dan pelaku sektor swasta untuk berdiskusi mengenai pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menciptakan solusi konkret untuk mengatasi krisis iklim. Berbagai inisiatif mulai dari sistem peringatan dini untuk banjir rob hingga peningkatan akses terhadap air bersih di daerah yang rentan dibahas secara mendalam.
Inovasi Pemantauan Banjir Rob Berbasis AI
Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah hasil penelitian kolaboratif antara Universitas Telkom Indonesia dan University of Wollongong di Australia, yang didukung oleh KONEKSI, sebuah kemitraan Australia-Indonesia dalam bidang pengetahuan dan inovasi.
Pada penelitian ini, sebuah aplikasi berbasis AI dikembangkan untuk memantau dan memberikan peringatan tentang banjir rob secara real-time. Aplikasi ini dapat diakses oleh masyarakat melalui ponsel mereka, dengan implementasi saat ini di tiga wilayah pesisir utara Jawa Tengah, yaitu Semarang, Demak, dan Pekalongan. Ketiga daerah ini telah lama terpapar dampak banjir rob yang disebabkan oleh kombinasi pasang air laut dan penurunan muka tanah.
Integrasi Sensor dan Dashboard Digital
Miftadi Sudjai, peneliti dari Universitas Telkom, menjelaskan bahwa sistem ini mengintegrasikan sensor yang terpasang di lapangan dengan server pusat yang terhubung ke dashboard digital berbasis AI.
“Kami telah mengintegrasikan sistem pemantauan peringatan ke dalam dashboard yang dapat diakses oleh publik melalui aplikasi di ponsel. Inisiatif ini memungkinkan masyarakat untuk menerima informasi lebih awal, sehingga dapat meningkatkan kesiapsiagaan mereka terhadap banjir rob,” terang Miftadi.
Penguatan Ketahanan Masyarakat Pesisir
Lebih lanjut, Miftadi menambahkan bahwa pengembangan teknologi ini dilakukan melalui pendekatan kolaboratif antara akademisi, pemerintah, dan sektor swasta. Hal ini bertujuan untuk menghasilkan sistem AI dan Internet of Things (IoT) yang sesuai dengan kondisi lapangan.
Teknologi ini diharapkan dapat meminimalkan kerugian ekonomi akibat banjir rob serta memperkuat ketahanan masyarakat pesisir dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks.
Tantangan Krisis Air Bersih di Wilayah Pesisir
Selain isu banjir rob, forum ini juga membahas tantangan besar terkait krisis air bersih yang dihadapi oleh masyarakat di daerah pesisir. Penelitian kolaboratif yang dilakukan oleh Universitas Diponegoro dan Australian National University mengungkapkan bahwa banyak warga di pesisir Jepara, Jawa Tengah, masih harus berebut untuk mendapatkan air hingga larut malam, disebabkan terbatasnya akses ke sumber air bersih.
Inovasi Sistem Penyediaan Air Bersih
Prof. I Nyoman Widiasa, seorang peneliti dari Universitas Diponegoro, menjelaskan bahwa timnya telah mengembangkan sistem penyediaan air bersih skala kecil dengan pendekatan desentralisasi. Saat ini, sistem tersebut telah diterapkan di lebih dari 16 lokasi.
“Indonesia sebenarnya memiliki sumber daya air yang melimpah. Namun, tantangan yang ada adalah infrastruktur yang belum merata. Oleh karena itu, kami membangun mesin penyedia air skala kecil untuk desa dan kecamatan,” jelasnya.
Mendorong Ekonomi Biru melalui Pemanfaatan Air
Nyoman menambahkan bahwa sistem ini tidak hanya bertujuan untuk menyediakan air bersih, tetapi juga mendorong pengembangan ekonomi biru. Salah satu contohnya adalah pemanfaatan air buangan untuk produksi garam dan budidaya perikanan.
Inovasi ini diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain yang menghadapi masalah serupa, sehingga dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat yang membutuhkan.
Dengan adanya inovasi AI dan tata kelola air yang terintegrasi, diharapkan Indonesia dapat lebih siap dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Kolaborasi antar sektor yang solid menjadi kunci untuk menciptakan solusi yang efektif dan berkelanjutan.
➡️ Baca Juga: Michael Bambang Hartono Wafat: Menelusuri Sumber Kekayaan dan Karier Bisnisnya
➡️ Baca Juga: Strategi Ganda Pemerintah dalam Bea Keluar NPI dan Kenaikan HMA Nikel untuk Maksimalkan Pendapatan Negara




