Bitcoin di Titik Kritis, Pasar Antisipasi Data Inflasi Amerika Serikat

Dalam 24 jam terakhir, pasar Bitcoin melihat volatilitas harga yang signifikan. Cryptocurrency terkemuka ini baru saja menguat sekitar 4,20% dan diperdagangkan sekitar USD69.200 atau sekitar Rp1,16 miliar pada Selasa pagi (10/3/2026). Peningkatan ini adalah bagian dari upaya pemulihan setelah harga turun ke level di bawah USD66.000 sehari sebelumnya. Sementara itu, dominasi pasar Bitcoin (BTC.D) juga melonjak menjadi 59,45%, mencerminkan peran yang semakin kuat dalam pasar cryptocurrency. Total kapitalisasi pasar mata uang digital global juga bertambah sekitar 3,33% menjadi USD2,34 triliun.

Bitcoin dan Dinamika Ekonomi Global

Pergerakan Bitcoin terkini terjadi di tengah situasi ekonomi global yang semakin rumit. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran telah mendorong lonjakan harga minyak mentah WTI hingga sekitar USD110 per barel, atau naik sekitar 20 persen. Harga ini adalah yang tertinggi dalam empat tahun terakhir dan hampir dua kali lipat dibandingkan harga di awal tahun 2026.

Terlepas dari ketidakpastian global, minat institusi terhadap Bitcoin terus meningkat. Strategy, sebelumnya dikenal sebagai MicroStrategy, dilaporkan telah menambah kepemilikan Bitcoin dalam jumlah yang besar. Laporan terbaru menunjukkan bahwa perusahaan tersebut membeli 17.994 BTC dengan nilai sekitar USD1,28 miliar, dengan harga rata-rata USD70.946 per koin dalam seminggu terakhir. Dengan pembelian ini, total kepemilikan Bitcoin perusahaan ini sekarang mencapai 738.731 BTC. Secara keseluruhan, kepemilikan Bitcoin oleh perusahaan publik mendekati 5 persen dari total pasokan BTC yang beredar.

ETF Bitcoin dan Antisipasi Data Inflasi AS

Sentimen positif juga tercermin dalam arus dana ke produk investasi crypto. ETF Bitcoin spot mencatat arus masuk bersih sekitar US$568,45 juta hingga 6 Maret 2026. Ini adalah minggu kedua berturut-turut dengan arus dana positif, setelah pasar menghadapi tekanan selama tiga minggu pertama Februari.

Akan tetapi, fokus pasar saat ini adalah pada perilisan data inflasi Amerika Serikat melalui US Consumer Price Index yang dijadwalkan pada 11 Maret 2026. Prediksi pasar menunjukkan bahwa inflasi berada di kisaran 2,5 persen. Jika angka inflasi tetap di atas target 2 persen yang ditetapkan oleh Federal Reserve, terutama karena kenaikan harga energi, kemungkinan pemangkasan suku bunga mungkin akan ditunda. Kondisi ini berpotensi mempengaruhi sentimen terhadap aset berisiko, termasuk cryptocurrency.

Skenario Pasar Mengantisipasi Data Inflasi AS

Ada dua skenario yang saat ini sedang dipertimbangkan oleh investor. Jika data inflasi lebih rendah dari perkiraan, sentimen risk-on dapat meningkat dan membuka peluang bagi Bitcoin untuk mencoba area resistensi di sekitar USD72.000. Sebaliknya, jika inflasi lebih tinggi dari yang diperkirakan, kebijakan moneter yang lebih ketat dari The Fed dapat menurunkan harga BTC kembali ke bawah USD66.000.

➡️ Baca Juga: Vietnam Hadapi Krisis Energi: Taktik Redam Dampak Gejolak Timur Tengah

➡️ Baca Juga: Kenaikan Tarif Tol Semarang-Batang Jelang Lebaran: Informasi Terkini

Exit mobile version